Skip to content

Optimis Bisa Membangun Rumah

June 20, 2012
tags:

ImageIni adalah seri ke-3 tulisan tentang membangun rumah. Beberapa bulan ini saya jarang menulis, karena memang terasa malas. Tetapi saya beberapa kali memantau blog, terutama ingin melihat tulisan apa yang paling hit untuk dibaca visitor. Ternyata artikel tentang rumah tetap mendominasi jumlah page view ataupun visitor. Sehingga saya berkesimpulan tulisan-tulisan tentang rumah menengah kebawah sangat dicari dan banyak masyarakat yang menginginkan membangun rumah dengan dana terbatas. Hal ini sangat wajar ketika semua kebutuhan pokok maupun kebutuhan sekunder dan tertier yang semakin naik, sementara kenaikan pendapatan tidak linier dengan kenaikan harga-harga. Akhirnya masyarakat harus menyiasati bagaimana agar tetap dapat hidup layak tetapi juga dapat mewujudkan memiliki rumah sebagai naungan utama.

Ok, dalam tulisan ini saya hanya menegaskan bahwa keingininan membangun rumah itu harus ada dan optimis dapat diwujudkan dalam waktu yang masuk akal. Masuk akal ini berkaitan dengan kemampuan menabung atau kemampuan membayar cicilan. Kalau anak Anda masih belum banyak membutuhkan biaya dan Allah selalu member kita kesehatan –amien ya Rabbal aalamien- dan penghasilan Anda  2,5 juta atau lebih; insya Allah harusnya Anda bisa merancang untuk segera membangun rumah (lihat artikel-artikel sebelumnya).

Dalam artikel ini, saya hanya menyampaikan tips mewujudkan rumah dalam lingkup orang awam. Artinya kebutuhan dana itu harus dipenuhi dengan menabung atau mengambil pinjaman sesuai batas kemampuan. Saat ini marak seminar-seminar tentang property yang mengajarkan membeli property tanpa uang tanpa utang. Saya sendiri tidak tahu sama sekali caranya –karena belum pernah dapat ilmunya-. Saya kira semua cara dapat dilakukan sepanjang tidak melakukan korupsi, penipuan, atau penelantaran pada keluarga. Semua cara dapat ditempuh sepanjang cara kita halal dan diridhoi Allah SWT.

Optimis!

Saat ini harga rumah selangit. Saya menyaksikan sendiri disekitar rumah saya banyak iklan-iklan rumah yang beterbaran disepanjang jalan dengan harga fantastis minimal 300jt. Padahal perumahan itu dididirikan dikampung lho! Wah gimana nasib masyarakat berpenghasilan tetap dan terbatas ya untuk membeli rumah. Inilah maksud tulisan ini dibuat. Diantara kesulitan-kesulitan insya Allah ada kemudahan-kemudahan. Diantara harga-harga yang mahal pastilah ada celah untuk meraih harga yang terjangkau. Dan membangun rumah sendiri (tidak membeli perumahan) adalah solusi yang cukup masuk akal. Caranya gimana? Dapat ditelusur dalam artikel-artikel saya sebelumya ya..

Yang jelas ada satu pesan yang ingin saya sampaikan. Memangun rumah itu memang mahal! Bahkan mahal bangetz. Tetapi jangan terlalu terpengaruh dengan banyak pendapat kalau rumah itu pasti mahal. Sama dan identik dengan kita membeli minuman bersoda. Produk coca cola harganya pasti lebih mahal. Tetapi untuk minum minuman coke khan tidak harus membeli cocal cola. Bisa saja kita pilih pepsi atau bahkan big cola. Toh semuanya sama-sama berasa cola dan bersoda. Atau kalau kita ingin membeli sepeda bisa saja kita melihat iklan Polygon Helios atau Specialized atau Adrenaline  yang harganya puluhan juta rupiah. Tetapi kalo uang kita terbatas masak harus memaksakan diri beli Helios. Kita khan bisa membeli Premiere, atau Monarch atau bahkan merk-merk United, Wim Cycle, atau Aleoca yang lebih terjangkau. Yang penting khan kita bisa bersepeda tiap minggu bersama komunitas.

Tetapi memang membeli produk harus ada pass grade nya. Jangan sampai terlalu murahan yang tidak memenuhi standar kenyamanan dan keamanan. Kalau kita membeli wim cycle dibawah 2 juta siapa yang menyatakan sepeda itu tidak aman dan nyama? Memang kalo dibanding sepeda berhaga lebih dari 10 juta pasti tidak nyaman, tetapi kalo didasarkan standar rata-rata sepeda itu sudah lolos kenyamanan dan keamanan untuk dipakai.

Demikian juga dengan rumah. Rumah berharga 500juta secara logika pasti nyaman. Tetapi 500 juta itukhan harga jual. Belum tentu harga produksinya habis 250 juta. Saya pernah membaca sebuah pengembang di Jakarta mematok harga rumahnya 3 milyar. Dan ternyata biaya membangunnya tidak nyampai 2 milyar; sehingga keuntungan jual per unit mencapai 1 milyar. Dan itu sah-sah saja. Khan mereka tidak hanya menjual bangunan tetapi mereka juga menjual kenyamanan, keamanan, dan tentu saja image/citra pengembang.

Oleh sebab itu kalau tujuan kita memiliki rumah bukan prestise dan kemewahan tetapi kebutuhan untuk tidak mengontrak maka membangun rumah dengan dana 60 juta-100 juta sangat bisa diwujudkan. Kunci yang penting adalah berkeinginan kuat, bermohon pada Allah SWT, dan memiliki dana atau potensi dana. Lebih bagus lagi kalau punya sedikit pengetahuan harga bahan bangunan, rasio upah tukang dengan bahan bangunan dll. Kalau uang kita 60 juta; upah tukang kira-kira 20-25jt; maka bahan bangunan 35 juta. Rasional? Tergantung penilaian kita! Kalau rumah standar tipe 45-60 sangat rasional. Walaupun belum tuntas seluruhnya. Yang penting tidak bertemu pemborong penipu saja, syukur-syukur dikelola sendiri pembangunannya.

Wallahu a’lam.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: