Skip to content

Laki-laki Tak Kan Pernah Siap Menikah!

April 13, 2011

Semoga tulisan ini dibaca oleh adik-adik mahasiswa, para remaja yang berambisi beli rumah dan beli mobil, atau eksekutif muda yang bekerja keras demi kehidupan financial yang mapan.
“Udah siap nikah?”
“Kapan mau nikah?”
Lima tahun yang lalu, bagi saya, itu adalah pertanyaan yang menyebalkan dan amat membuat stress. Bagaimana tidak, disaat saya belum bekerja mapan; masih ingin kumpulin uang buat membahagiakan ortu dan pengin beli rumah serta mobil eee mantan pacar beberapa kali mengajukan pertanyaan itu. Emang dia gak tau kalo menikah itu harus siap mental, siap uang, siang rumah, siap mobil. Tabungan aja belum nyampe 5 juta kok ngomongin nikah. Saya khan masih ingin senang-senang, ingin menjalani hubungan ini mengalir apa adanya, dan pasti belum ingin membicarakan pernikahan. Jangankan menentukan kapan menikah, berpikir ingin menikah saja belum. Saya ingin sendiri dulu, dan hubungan dengan kamu adalah bersenang-senang saja dulu.
[Masya Allah, ingin sendiri dulu kok tetap berpacaran. Berpacaran kok mengalir apa adanya….]
Untung sekali Allah amat sayang kepada saya dan pacar saya itu. Walaupun saya sangat belum menikah tetapi ada keinginan kuat dalam hati untuk tidak menyakiti pacar saya itu dan saya pasti akan menikahinya. Entah kapan. Lho?
Kesiapan Menikah adalah paksaan dari diri kita sendiri.
Kalau ditanyakan kepada laki-laki yang masih berpacaran, tiap hari berbocengan bergelayutan, dan runtang-runtung kesana-sini, saya amat sangat yakin kalo mereka belum siap menikah. Mengapa? Karena dalam diri kita sendiri, kita sering menyatakan diri belum menikah. Padahal tidak akan ada kesiapan menikah kalo tidak kita paksakan sendiri. Akan ada seribu alasan untuk menguatkan argument kita bahwa kita memang belum siap menikah. Entah itu masih kuliah, belum dapat kerja, kerja belum mapan, tabungan belum 50 juta, belum punya rumah, belum punya mobil, dan 994 alasan lainnya. Tapi anehnya dan tidak konsistennya, mereka tetap berpacaran secara kontinu. Ada yang pacaran parah pula!

Hal tersebut dulu juga terjadi pada saya, dimana saya merasa selalu belum siap menikah. Bahkan ketika mantan pacar saya perihal pernikahan saya selalu menjawab dengan diplomatis (baca: mengambang :-)). Kejadian itu terjadi berbulan2, sampai pada kondisi dimana saya berpikir untuk mengakhiri ketidakjelasan ini dan memutuskan   untuk segera menikah. Apakah tabungan saya saat itu sudah banyak? Apakah saat itu rumah sudah terbangun? Apakah mobil telah terbeli. Jawabannya semua TIDAK. Lho kok tiba2 berubah pikiran? Itulah yang saya sendiri heran. Saya begitu saja membulatkan tekad menikah tanpa bekal yang dulu saya desainkan.

Dan mungkin keinginan menikah itu karena pertolongan Allah, karena walaupun slengekan tetapi niatan untuk menikah selalu tertanam dalam hati. Ternyata menikah itu bukan urusan dunia, tetapi nikah itu urusan agama yang kesiapannya harus kita paksakan sendiri. Masa bodo dengan uang yang penting saya melaksanakan perintah agama sebaik-baiknya; dan saya ingin membahagiakan pacar saya itu. Pacar saya itu insya Allah sangat mencintai saya, maka bodohlah saya kalo saya menyia-nyiakan dia. Singkat cerita, bismillah, akhirnya saya menikah di usia 28 tahun (sudah tua khan? ).
Rezeki sudah diatur oleh Allah SWT.
Didunia ini, manusia sudah membawa rejeki masing-masing. Saya membawa rejeki, istri saya membawa rejeki, anak-anak saya juga membawa rejeki. Bila disatukan maka rejeki dalam rumah tangga itu akan besar sekali. Dan memang demikianlah adanya. Bisa dibilang desain keduniaan saya sebelum menikah gagal total. Saya merencanakan membangun rumah dan membeli mobil dulu sebelum menikah. Tetapi takdir Allah menghendaki saya harus menikah dulu. Dan saya yakin kalo saya memperturutkan hawa nafsu untuk mengejar dunia dulu, mungkin dunianya gak dapet, istri juga gak dapet. Apes deh…
Dan seiring berjalannya waktu dalam kurun 5 tahun, anak saya sudah tiga. Saya bahagia berumah tangga. Istri saya menjadi ibu rumah tangga. Penghasilan hanya dari saya seorang diri. Tetapi Alhamdulillah keinginan dunia tetap terkejar. Mau makan enak bisa, bisa beli tanah, bangun rumah, mau kemanapun juga ada kendaraan.
Lha wong Tuhan saja menjamin rejeki, masa Tuhan akan mengingkari. “Menikahlah, niscaya engkau menjadi kaya.”
Menikah membuat hidup teratur dan terencana.
Saya mengamati teman-teman yang duluan menikah, mereka jauh lebih mapan dan sudah establish sekali. Bisa dikatakan sudah jadi oranglah… Tapi sebaliknya saya juga mengamati beberapa teman yang belum menikah. Mereka cenderung stagnan, keinginan dunia lambat tercapai, penghasilannya tidak ‘temonjo’. Habis buat jajan-jajan, beli laptop terus menerus, beli gadget berganti-ganti dll. Akhirnya keinginna menabung sebelum menikah tidak tercapai.
Kalo buat orang yang sudah menikah, rencananya pasti sudah jangka panjang. Mengapa? Karena kebutuhan sudah didepan mata. Baju anak istri, susu, diapers, mainan anak-anak, rumah untuk bernaung, kendaraan untuk pergi kesana-sini. Maka bagi Anda yang sudah wajib menikah, sudah bersama-sama sepanjang hari dengan pacar Anda, atau sudah kaya raya maka Menikahlah, Bos!!

One Comment leave one →
  1. March 9, 2012 3:05 am

    _

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: