Skip to content

The Power of # and @

November 26, 2010
tags: , ,

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi oleh tulisan Pepih Nugraha dalam Kompas Cetak yang berjudul Waspadai Twitter. Bagi para netter yang sering berkicau di situs jejaring twitter, simbol pagar/kres (#) dan at (@) tetntulah tidak asing lagi. Karena kedua simbol itulah ciri khas dari tweet atau status yang kita tuliskan dalam twitter. # mengarahkan pada tema/topik bahasan tertentu dalam bagian tweet kita, sedangkan @ mengarahkan pada alamat akun seseorang yang kita libatkan dalam sebuah pembicaraan/tweet.

Pada bisnis jejaring sosial twitter adalah lawan terberat Facebook. Facebook lahir di tahun 2004, sedangkan twitter lahir ditahun 2006. Dilihat dari sisi pengguna, maka Facebook masih menang dibanding twitter dengan 500 juta pengguna, sedangkan twitter memiliki 165 juta pengguna. Tetapi dari segi pertumbuhan pengguna dan jumlah tweep/status yang di upload setiap hari, maka twitter adalah ancaman terbesar Facebook. Bahkan Mark Zuckerberg sebagai pendiri Facebook memperkirakan Twitter akan lebih besar dari Facebook apabila pertumbuhan twitter akhir-akhir ini akan bertahan 12-18 bulan.  (sumber).

Twitter Yang Mengancam

Pepih Nugraha dalam tulisannya mengutip wanti-wanti Alan Rusbridger seorang kolumnis guardian.co.uk, menuliskan bahwa twitter adalah ancaman dari arus utama media saat ini: TV, koran: online maupun cetak. Ada 15 alasan kenapa twitter menjadi ancaman bagi main stream media massa saat ini.

Sebenarnya apabila kita perhatikan twitter tak lebih dari sekedar sms berantai di internet. Menjadi sangat istimewa karena pesan berantai ini mengandung link/tautan yang dapat dibuka untuk telusur lebih lanjut. Kita pun sebagai orang biasa bisa memblow up sebuah berita penting dari sekitar kita, sementara media massa belum mewartakannnya. Seandainya berita itu mempunyai kadar jurnalistik yang tinggi, maka dengan menambahkan # pada suata kata,tema berita/isu tertentu itupun akan menjadi topik bahasan yang hangat dan cepat menyebar.

Salah satu dari 15 alasan penting dalam tulisan tersebut adalah hilangnya hierarki lapangan. Tidak semata orang terkenal yang didengar, orang biasa pun memungkinkan berinteraksi secara intens. Dengan menuliskan @ pada akun seseorang, kita dapat langsung terlibat atau melibatkan diri dalam sebuat pembicaraan atau mereply tweet orang lain tanpa minta ijin. Inilah kehebatan jejaring sosial twitter ini. Sehingga kita dapat langsung ngomong ke menteri, ke anggota DPR, jubir presiden atau ke satgas mafia hukum untuk memberi saran bahkan melaporkan. Dengan hilangnya hierarki itu maka dapat dipahami sebuah tweet dari seorang menteri dapat ditanggapi dengan hiruk pikuk oleh semua orang -entah dia terkenal atau tidak-, kemudian dibaca oleh menteri tersebut, dan ramailah dunia maya termasuk kompasiana.

sumber gambar:

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: