Skip to content

Sistem Transportasi, Tarif Parkir, dan Gairah Bersepeda

November 26, 2010
12906574372026771033
macet

 

Indonesia adalah sebuah negara dengan tingkat kesemrawutan lalu lintas kendaraan yang tinggi. Apalagi jika kita menyaksikan lalu lintas di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Hampir di semua bagian jalan di pusat-pusat kota terjadi kemacetan. Bahkan di Jakarta kemacetan pada bulan-bulan ini aman sangat semakin parah. Beberapa televisi nasional dan media massa mewartakan secara khusus tema kemacetan yang beberapa tahun ke depan akan mengakibatkan kelumpuhan di Jakarta.

Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan manajeman transportasi untuk mencegah kemacetan yang parah saat ini belum terlihat secara nyata dan sistematis. Pertambahan hampir 900 sepeda motor dan hampir 250 mobil per hari di jakarta (Kompas.com) jelas akan semakin menambah kemacetan setiap harinya. Apalagi pemerintah belum akan membatasi pemebelian mobil dan sepeda motor oleh konsumen. Yang seharusnya dapat dilakukan saat ini adalah menambah volum jalan di atas jalan (jalan layang) maupun di bawah jalan (terowongan bawah tanah). Selain itu pasti perlu ditambah lagi sistem angkutan massal yang nyaman. Hanya saja perencanaan yang tidak sepenuh hati hanya akan menghambur-hamburkan uang negara/rakyat; seperti halnya proyek monorail yang mangkrak. Padahal negara tetangga, selain sudah mernerapkan angkutan massal monorail juga sudah membangun terowongan sebagai bagian mengatur sistem transportasi dan drainase.

Tarif Parkir

Di Indonesia, tarif parkir bukanlah satu-satunya penyebab transportasi yang semrawut. Bahkan saya dapat menyebut belum ada keterkaitan yang signifikan antara tarif parkir dan sistem transportasi yang semrawut. Tarif parkir akan dapat dikaitkan dengan kondisi lalu lintas saat ini apabila kondisi-kondisi lainnya terpenuhi seperti halnya di negara-negara maju lain yang telah menerapkan sistem parkir yang sangat mahal. Kota-kota seperti London, Hongkong, Tokyo, Roma, Zurich, Sidney, Perth, Brussel, New York dan Kopenhagen telah menerapkan tarif parkir yang tinggi mulai 8,3 juta/bulan sampai 4,2 juta/perbulan (sumber) karena mereka telah menerapkan sistem transportasi yang baik terutama berkaitan dengan angkutan massal dan kondisi lingkungan yang nyaman ketika tidak menggunakan mobil/sepeda motor. Dan yang tidak kalah penting adalah tingkat kemakmuran rakyatnya sehingga tarif-tarif parkir yang super mahal tetap akan layak untuk diterapkan.

Untuk Indonesia, tarif parkir yang mahal juga harus diterapkan secara bertahap untuk meningkatkan sistem transportasi yang baik, tetapi kondisi-kondisi yang mendukungnya juga harus dipenuhi yakni kemakmuran rakyat, lingkungan yang nyaman, dan sistem transportsi massal yang handal. Jika semua kondisi pendukung tidak dipenuhi jangan harap kebijakan ini akan diterima rakyat dengan suka cita.

Bersepeda adalah solusi

 

1290657820541363735
bersepeda

 

Bike to Work dan  Segosegawe adalah contoh sebuah gerakan riil dari masyarakat maupun pemerintah daerah Yogyakarta untuk membentuk sebuah perilaku dan gaya hidup baru yang sejalan dengan semangat memperbaiki sistem trasportasi di Indonesia. Bike To Work adalah komunitas masyarakat pekerja yang peduli dengan kondisi lingkungan dan peduli untuk memperbaikinya dimulai dengan langkah nyata berangkat bekerja menggunakan sepeda. Segosegawe juga memiliki semangat yang sama dimana pemerintah kota Yogyakarta berkampanye untuk menghidupkan kembali kebiasaan masyarakat Jogja yang menaiki sepeda ketika berangkat kerja dan berangkat sekolah.

Ini adalah sebuah gerakan moral yang besar dan akan berdampak pada perbaikan lingkungan dan perilaku masyarakat modern. Disaat kondisi tidak terlalu mendukung gerakan ini lahir. Di tahun 90-an saya bersekolah dengan sepeda dari Sleman menuju kota Yogya sejauh 11 km. Pada saat itupun anak-anak sekolah bersepeda dengan jarak yang cukup jauh melintasi kota sudah semakin jarang. Hal itu wajar karena kondisi jalan sangatlah panas bercampur dengan kesemrawutan lalu lintas mobil dan sepeda motor. Di tahun 2010 ini kondisi lingkungan semakin tidak bersahabat dimana udara semakin panas dari waktuke waktu. Pun demikian kondisi lalu lintas yang semakin padat tanpa menyisakan ruang kosong di jalan. Kondisi ini merupakan tantanangan besar bagi masyarakat yang ulai merevolusi kesehariannya dengan bersepeda ke tempat kerja dan ke sekolah.

Tarif Parkir dan Bersepeda

Dikota-kota besar dengan tarif parkir mahal, bersepeda adalah alternatif yang sudah lazim dilakukan. Bahkan di negara-negara Eropa ada sebuah negara dengan kepemilikan sepeda melebihi jumlah penduduknya. Hal ini menandakan bersepeda adalh bagian dari kesehariannya.

Di Indonesia tentu tidak harus menunggu tarif parkir mahal untuk bersepeda. Cukup pemerintah memperbaiki lingkungan-lingkungan jalan dengan menanami banyak pohon dan membuat jalur khusus pesepeda agar tingkat harkat dan derajat pesepeda sama dengan pengendara mobil dan pesepeda motor. Ada sebuah contoh dimana pemerintah kota jogja sudah memasang rambu-rambu jalur alternatif yang ditujukan kepada pesepeda. Walaupun belum merupakan jalur khusus tetapi ittikad baik ini harus dihargai sebagai inisiasi kebijakan pemerintah kota yang berpihak pada pesepeda.

Sumber gambar:

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: