Skip to content

Membuktikan Adanya Tuhan

September 16, 2010

Stephen Hawking

Stephen Hawking dalam bukunya terbaru The Grand Design menyatakan tidak ada campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta. Yang ada adalah peran gaya gravitasi.

Kalo mengamati para ilmuan yang berkutik dengan rasio-nya saya senang sekali. Ada yang terang-terangan menyatakan tidak ada Tuhan, ada yang masih samar-samar dan dalam berada dalam alam pencarian, tetapi ada juga yang jadi sangat relijius setelah mengetahui fenomena2 sains dan membuat imannya akan Tuhan menjadi bertambah-tambah.

Saya meyakini mereka adalah orang-orang hebat, mereka mengalami perjalanan religinya dengan kemampuan rasionya dan berusaha mencari keberadaan Tuhan. Perjalanan pencarian merekapun bermacam-macam. Ada yang masih berjalan selangkah, ada yang sudah pada kesimpulan akhir tentang keberadaan Tuhan setelah sekian lama berjuang. Tetapi ada juga yang masih terus mencari-cari dan  ragu-ragu. Tetapi semuanya itu adalah bagus saja, karena mereka menggunakan akalnya untuk mencari Tuhan.

Tetapi kita akan bertanya; apakah akal bisa memikirkan Tuhan? Kalo kita belajar tentang kisah-kisah kenabian, maka kita akan menjadi kebingungan jika hanya mengandalkan rasio saja. Coba kita perhatikan kisah Nabi Musa yang membelah laut sehingga Nabi Musa dan pengikutnya bisa berjalan seperti daratan; atau mungkin adanya surga dan neraka? Sulit akal kita memikirkan itu. Atau bisakah kita memikirkan tentang ‘hidup selamanya’ atau disiksa dineraka ‘selamanya’. Padahal hidup didunia ini dibatasi waktu, paling kita hidup di dunia hanya sampai tiba pada waktu mati saja. Trus ‘selamanya’ itu gimana ya? Wah…

Itu baru memikirkan ‘waktu’ saja yang hanya makhluk Tuhan. Trus gimana bisa memikirkan Tuhan? Akhirnya sebagai orang awam yang gak tau fisika dan teori M-nya Stephen Hawking hanya bisa berkata Tuhan itu gak bisa dibuktikan dengan rasio. Gimana bisa, wong rasio itu saja ada yang mencipta kok. Yang mencipta rasio adalah Gravitasi? Masak sih?…

Mencari Tuhan sepertinya tidak cukup dengan rasio tetapi harus disertai dengan keberadaan ‘hati’. Dan yang lebih penting adalah jauhkanlah praktek-praktek berpikir yang didasarkan hawa nafsu semata. Terkadang kita sangat sombong dengan pemahaman kita tentang Tuhan seakan-akan pikiran kita sudah mengeksplorasi segala sesuatu ttg kemungkinan Tuhan padahal ilmu kita tidak lebih banyak dari setetes air yang jatuh dari jari telunjuk yang dicelupkan ke lautan luas. Pantaskah kita sombong pada kesimpulan tidak ada Tuhan?

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: