Skip to content

Pelaksanaan UN begitu, bagaimana Kurikulum 2013?

April 18, 2013

Image

Obrolan menjelang tidur…

Istri: Pa, gimana sih kondisi sekarang ini, kok UN saja seperti kacau begitu gak bisa serentak?

Saya : Papa juga gak ngerti Mi, apa Ebtanas dulu juga ada kacau-kacau gini, tapi tidak diberitain media; atau memang persiapannya jauh lebih baik. Yang jelas kalau dulu jadwal ebtanas tidak pernah kok diundur-undur seheboh ini. Cuma papa ingat waktu tahun 2009, waktu Om kelas 3, ebtanas/unas-nya di ulang! Wah, itu secara psikologis menyakitkan sekali.

—–

Entah dimana pangkal permasalahannya, yang jelas pelaksanaa UN (ujian nasional) tahun 2013 ini sangat menghebohkan. Sebelas propinsi gagal menyelenggarakan UN karena soal UN belum diterima daerah masing-masing. Saya sangat prihatin menyaksikan fenomena belakangan ini. Dimana sebuah kegiatan rutin yang seharusnya dapat dilaksanakan dengan baik dan serentak menjadi carut (karut)-marut. Kalo kita -pemerintah, dan DPR tentu saja- masih sepakat UN diselenggarakan, semestinya fenomena ini tidak perlu terjadi. Keberlangsungan bangsa dan negara jauh lebih penting daripada segalanya. Kalau sudah diputus untuk dilaksanakan seyogyanya semua harus berkomitmen untuk melaksanakan.

Atau jangan-jangan ini sebuah proses politis. Ah, rasanya pada era sekarang ini sulit untuk tidak mengkaitkannya dengan kepentingan politis. Kenapa?

satu, tidak semua sepakat dengan UN dengan argumen masing-masing; baik yang bermutu, maupun tidak bermutu. baik yang berasal dari warung tegal dan indomie rebus, maupun yang bersumber dari lisan-lisan profesor ahli pendidikan. Mengapa dahulu -waktu jaman ebtanas- semua setuju? Itulah hebatnya Pak Harto. Saya jadi ingat pesan-pesan eyang Soeharto di bak belakang truk-truk pengangkut pasir. Kepiye kabare…isih penak jamanku tho? Lha sekarang? Demokrasi coiiii!

dua, UN adalah hajatan berbiaya tinggi. Pengganggarannya pasti lewat DPR. Dan pasti ada proses panjang mengenai anggaran tersebut. Dan kabarnya anggaran untuk kemendikbud sampai april ini khan belum cair. Bukan tidak mungkin, percetakan terlambat mencetak soal karena kemendikbud mengorder pencetakan juga terlambat; karena belum punya uang. Kalau ini benar-benar menjadi sebab; betapa orang-orang pengurus negara ini benar-benar tidak memikirkan nasib jutaan pelajar yang was-was menghadapi UN ini. Sudah cemas, ditunda pulak! Tambah cemas kan…

UN seperti ini, bagaimana dengan kurikulum 2013 yang lebih besar resistensinya dari berbagai pihak. Resistensi yang sangat beralasan. Bagaimana mau dilaksanakan di Juli 2013 kalau materi kurikulum dan perangkatnya yang akan diterapkan belum juga siap sampai hari ini. Rakyat indonesia tidak akan menolak perubahan termasuk perubahan kurikulum; hanya benarkah kurikulum baru ini akan membawa perubahan bagi pendidikan dan bangsa ini? Kita semua butuh penjelasan yang jelas. Dan bagaimana mungkin persiapan akan berjalan baik kalau dana untuk persiapan dan pelaksanaan tidak juga cair.

Ayolah menjadikan negeri ini makin baik. Ulah dari para penyelenggara negara: pemerintah, dpr, yudikatif yang tidak kompaklah penyebab kekacauan ini. Kalo UN, kurikulum tidak memberikan dampak baik bagi kepentingan anak-anak bangsa kenapa mesti diteruskan? tetapi jika berdampak baik, kenapa mesti dihambat-hambat sehingga terjadi kekacauan dimana-mana? Sudah tidak cintakah kita terhadap negeri ini?

2012 in review-Terima Kasih Pengunjung Telah Menjadikan Blog ini Lumayan Populer

January 4, 2013

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

4,329 films were submitted to the 2012 Cannes Film Festival. This blog had 13,000 views in 2012. If each view were a film, this blog would power 3 Film Festivals

Click here to see the complete report.

Sekolah (Dasar) Negeri dan Mutu Pendidikan

June 27, 2012


Pada awal tahun ajaran baru para orang tua disibukkan dengan mencarikan sekolah untuk anak-anaknya. Begitu juga dengan tahun 2012/2013 ini, sekolah-sekolah membuka pendaftaran murid (peserta didik) baru dengan waktu yang berbeda-beda. Sekolah-sekolah favorit dan berkelas bahkan sudah membuka pendaftaran pada awal tahun 2012, berarti 6 (enam) bulan sebelum jadwal pergantian tahun ajaran. Sekolah-sekolah favorit ini –sebagian besar swasta- memang sangat banyak peminat. Karena banyaknya peminat dan ketebatasan kuota/kelas maka mereka menyelenggarakan ujian seleksi masuk sekolah. Tidak adanya level menengah, sekolah SD dan TK pun banyak yang menyeleksi calon siswanya.
Tahun ini anak saya lulus TK dan akan melanjutkan ke jenjang SD. Pilihan SD yang saya rencanakan dari dulu tidak berubah yaitu SD negeri. Ketika istri saya ditanyai sesama orang tua murid TK tentang SD pilihan kami yang SD negeri beberapa orang tua agak keheranan kenapa kami memilih SD negeri. Dan memang sebelum anak-anak lulus dari TK tersebut, banyak teman-tenan anak saya yang sudah mendapatkan sekolah SD yang kebanyakan adalah SD swasta terpadu, model, atau berbasis agama ternama. Dan pasti uang pangkalnya pun cukup mahal.
Sebenarnya pilihan kami terhadap SD negeri bisa dikatakan sebagai pilihan tradisi. Dulu saya dan istri semenjak SD sampai UGM semuanya sekolah negeri. Kami ingin membuktikan kembali bahwa SD negeri adalah sekolah yang bukan rendahan. Dijaman saya dulu sekolah negeri adalah pilihan utama para orang tua. Bukan karena bayarannya yang murah, justru disekolah negeri jaman saya dulu bayaran sekolah dan uang gedung sekolah negeri tergolong mahal dibanding sekolah swasta di wilayah yang sama. Tapi sekarang jaman sudah berubah. Semenjak ada trend sekolah terpadu, sekolah model, sekolah berwawasan global, sekolah internasional, sekolah (R)SBI, dan berbagai istilah-istilah yang belakangan muncul maka sekolah-sekolah tersebut menjadi rujukan orang tuanya untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Dan itu adalah realitas dan hak orang tua untuk memilihkan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya.
Mengapa sekolah dasar negeri semakin tidak diminati?
Mutu adalah sebagian jawaban yang dikemukakan banyak orang. Sebagian SD negeri semakin tidak menjaga mutu lulusan dan mutu proses belajar mengajar. Apakah jawaban ini benar, masih dapat didiskusikan lagi.
Sebenarnya saya ingin “menuduh” bahwa input siswanyalah yang menjadi pembeda sekolah bermutu dengan kurang bermutu. Sekolah-sekolah berlabel mentereng mampu memilih input siswanya dengan serangkaian tes sehingga mendapatkan siswa yang lebih berkualitas. Pada level sekolah dasar, sekolah-sekolah favorit tersebut sudah mendapatkan siswa kelas 1 SD yang sudah bisa membaca dengan amat sangat lancar, bisa berhitung dengan baik, dan bisa membaca Al Quran dengan baik. Kalau sudah demikian maka sekolah itu tinggal mempertahankan kualitas dan meningkatkannya dengan modal guru yang kompeten, gedung sekolah yang representative, dan kegiatan penunjang (ekstra) yang bergengsi.
Sekarang kita lihat kondisi sekolah dasar negeri (terutama didaerah/pinggiran). Sekolah dasar negeri hanya mendasarkan umur sebagai kriteria seleksi. Aturan anak yang hendak masuk SD secara hukum/peraturan berumur 7 tahun. Tetapi banyak pendaftar yang umurnya tidak pas/kurang dari 7 tahun, sehingga harus di urutkan. Dari proses ini saja, kita dapat menduga bahwa anak-anak yang diterima di SD ini belum tentu mempunyai tingkat kecerdasan rata-rata, belum tentu sudah bisa baca dan berhitung, dan belum tentu juga pernah bersekolah di TK! Lho….
Tetapi itulah aturan politis yang harus ditegakkan secara konsekuen. Dimasa lalu (saya kurang tahu kurikukulum saat ini) TK adalah tempat bermain dan bersosialisasi secara formal. Sehingga pada jaman saya dulu di TK tidak akan diajarkan menulis, membaca, dan berhitung. Pembelajaran formal membaca dan berhitung baru dimulai saat siswa berada di kelas 1 SD.
***
Dengan melihat kondisi itu sangat wajar apabila SD negeri ‘kurang bermutu’ dibandingkan dengan SD swasta ternama. Tetapi itu sama sekali tidak boleh dijadikan alasan untuk terus berada dalam ‘ketidakbermutuan’. Guru adalah tumpuan utama untuk mengejar ketertinggalan input siswa ini. Seharusnya di SD negeri diperlukan guru yang berkemampuan lebih daripada guru di sekolah ternama. Masalahnya adalah bisakah guru SD negeri lebih bermutu? Ini adalah tanggung jawab individu guru dan tanggung jawab pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru. Bukan hanya melalui pelatihan-pelatihan kompetensi dan pemberian sertifikasi profesi tetapi dalam harapan saya guru-guru ini diberi wawasan sebagai guru inspiratif yang bekerja dengan hatinurani dan mampu mengubah anak-anak biasa menjadi anak-anak yang luar biasa. Prof Yo (Yohannes Surya) pernah mengatakan “tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak-anak yang belum mendapat kesempatan mendapatkan guru yang baik dan metode-metode yang benar”.
Yang terakhir, semoga anak saya diterima di SD negeri. Mohon doanya.

Optimis Bisa Membangun Rumah

June 20, 2012
tags:

ImageIni adalah seri ke-3 tulisan tentang membangun rumah. Beberapa bulan ini saya jarang menulis, karena memang terasa malas. Tetapi saya beberapa kali memantau blog, terutama ingin melihat tulisan apa yang paling hit untuk dibaca visitor. Ternyata artikel tentang rumah tetap mendominasi jumlah page view ataupun visitor. Sehingga saya berkesimpulan tulisan-tulisan tentang rumah menengah kebawah sangat dicari dan banyak masyarakat yang menginginkan membangun rumah dengan dana terbatas. Hal ini sangat wajar ketika semua kebutuhan pokok maupun kebutuhan sekunder dan tertier yang semakin naik, sementara kenaikan pendapatan tidak linier dengan kenaikan harga-harga. Akhirnya masyarakat harus menyiasati bagaimana agar tetap dapat hidup layak tetapi juga dapat mewujudkan memiliki rumah sebagai naungan utama.

Ok, dalam tulisan ini saya hanya menegaskan bahwa keingininan membangun rumah itu harus ada dan optimis dapat diwujudkan dalam waktu yang masuk akal. Masuk akal ini berkaitan dengan kemampuan menabung atau kemampuan membayar cicilan. Kalau anak Anda masih belum banyak membutuhkan biaya dan Allah selalu member kita kesehatan –amien ya Rabbal aalamien- dan penghasilan Anda  2,5 juta atau lebih; insya Allah harusnya Anda bisa merancang untuk segera membangun rumah (lihat artikel-artikel sebelumnya).

Dalam artikel ini, saya hanya menyampaikan tips mewujudkan rumah dalam lingkup orang awam. Artinya kebutuhan dana itu harus dipenuhi dengan menabung atau mengambil pinjaman sesuai batas kemampuan. Saat ini marak seminar-seminar tentang property yang mengajarkan membeli property tanpa uang tanpa utang. Saya sendiri tidak tahu sama sekali caranya –karena belum pernah dapat ilmunya-. Saya kira semua cara dapat dilakukan sepanjang tidak melakukan korupsi, penipuan, atau penelantaran pada keluarga. Semua cara dapat ditempuh sepanjang cara kita halal dan diridhoi Allah SWT.

Optimis!

Saat ini harga rumah selangit. Saya menyaksikan sendiri disekitar rumah saya banyak iklan-iklan rumah yang beterbaran disepanjang jalan dengan harga fantastis minimal 300jt. Padahal perumahan itu dididirikan dikampung lho! Wah gimana nasib masyarakat berpenghasilan tetap dan terbatas ya untuk membeli rumah. Inilah maksud tulisan ini dibuat. Diantara kesulitan-kesulitan insya Allah ada kemudahan-kemudahan. Diantara harga-harga yang mahal pastilah ada celah untuk meraih harga yang terjangkau. Dan membangun rumah sendiri (tidak membeli perumahan) adalah solusi yang cukup masuk akal. Caranya gimana? Dapat ditelusur dalam artikel-artikel saya sebelumya ya..

Yang jelas ada satu pesan yang ingin saya sampaikan. Memangun rumah itu memang mahal! Bahkan mahal bangetz. Tetapi jangan terlalu terpengaruh dengan banyak pendapat kalau rumah itu pasti mahal. Sama dan identik dengan kita membeli minuman bersoda. Produk coca cola harganya pasti lebih mahal. Tetapi untuk minum minuman coke khan tidak harus membeli cocal cola. Bisa saja kita pilih pepsi atau bahkan big cola. Toh semuanya sama-sama berasa cola dan bersoda. Atau kalau kita ingin membeli sepeda bisa saja kita melihat iklan Polygon Helios atau Specialized atau Adrenaline  yang harganya puluhan juta rupiah. Tetapi kalo uang kita terbatas masak harus memaksakan diri beli Helios. Kita khan bisa membeli Premiere, atau Monarch atau bahkan merk-merk United, Wim Cycle, atau Aleoca yang lebih terjangkau. Yang penting khan kita bisa bersepeda tiap minggu bersama komunitas.

Tetapi memang membeli produk harus ada pass grade nya. Jangan sampai terlalu murahan yang tidak memenuhi standar kenyamanan dan keamanan. Kalau kita membeli wim cycle dibawah 2 juta siapa yang menyatakan sepeda itu tidak aman dan nyama? Memang kalo dibanding sepeda berhaga lebih dari 10 juta pasti tidak nyaman, tetapi kalo didasarkan standar rata-rata sepeda itu sudah lolos kenyamanan dan keamanan untuk dipakai.

Demikian juga dengan rumah. Rumah berharga 500juta secara logika pasti nyaman. Tetapi 500 juta itukhan harga jual. Belum tentu harga produksinya habis 250 juta. Saya pernah membaca sebuah pengembang di Jakarta mematok harga rumahnya 3 milyar. Dan ternyata biaya membangunnya tidak nyampai 2 milyar; sehingga keuntungan jual per unit mencapai 1 milyar. Dan itu sah-sah saja. Khan mereka tidak hanya menjual bangunan tetapi mereka juga menjual kenyamanan, keamanan, dan tentu saja image/citra pengembang.

Oleh sebab itu kalau tujuan kita memiliki rumah bukan prestise dan kemewahan tetapi kebutuhan untuk tidak mengontrak maka membangun rumah dengan dana 60 juta-100 juta sangat bisa diwujudkan. Kunci yang penting adalah berkeinginan kuat, bermohon pada Allah SWT, dan memiliki dana atau potensi dana. Lebih bagus lagi kalau punya sedikit pengetahuan harga bahan bangunan, rasio upah tukang dengan bahan bangunan dll. Kalau uang kita 60 juta; upah tukang kira-kira 20-25jt; maka bahan bangunan 35 juta. Rasional? Tergantung penilaian kita! Kalau rumah standar tipe 45-60 sangat rasional. Walaupun belum tuntas seluruhnya. Yang penting tidak bertemu pemborong penipu saja, syukur-syukur dikelola sendiri pembangunannya.

Wallahu a’lam.

Kedewasaan Anak Sekarang

July 12, 2011

Tahukah Anda berapa usia ibu Anda ketika menikah? Kalau Anda sekarang berusia diatas 25 tahun saya yakin banyak dari ibu kita menikah diusia yang relatif muda. Ada yang 21 thaun, 19 tahun, bahkan 15 tahun. Apakah mereka menginginkan menikah diusia semuda itu? Boleh jadi tidak! Meraka menikah diusia muda karena sosio kemasyarakatan yang ada waktu itu yang memaksanya. Orang jaman dulu lazim menikah diusia dibawah 20 tahun, kadang malah saat menginjak akil baligh pertama kalinya.

Walaupun menikah diusia relatif muda tapi ibu-ibu kita itu telah berada dalam taraf dewasa khususnya dewasa secara mental. Ketika mereka pertama kali mempunyai anak, maka secara naluriah mereka sudah dapat memperlakukan anaknya layaknya seorang ibu. Mereka menyusui, mennganti popok, menggendong sampai anaknya tertidur, dan juga memberi makan anaknya.

Kedewasaan ibu-ibu kita dan bapak-bapak kita tidak datang begitu saja. Mereka sudah ditempa untuk menjadi orang yang berperilaku dewasa semenjak kecil. Pada jaman dulu anak usia 4-5 tahun sudah mampu mengasuh adiknya yang masih bayi dengan sangat alamiah. Orang tua merekalah yang mengajari itu semua. Orang tahu mereka mampu memberikan tanggung jawab kepada anak-anaknya hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan dan hal-hal apa saja yang selazimnya tidak dilakukan anak-anak. Kedewasaan anak secara mental salah satunya dilatihkan dengan memberikan tanggungjawab membantu pengasuhan anak terkecil kepada anak-anaknya yang lebih besar.

Kedewasaan Anak Sekarang

Dalam sebuah obrolan rngan dengan salah satu dosen universitas negeri di yogyakarta, beliau mengamati bertahun-tahun kerumunan orang-orang yang berkepentingan mendaftar ke perguruan tinggi tersebut. Secara kasar dapat teramati bahwa kurang lebih setengah dari kerumunan itu hanyalah orang tua atau keluarga si calon mahasiswa. Dengan kata lain beliau ingin mengatakan bahwa kemandirian dan kedewasaan si anak mahasiswa itu belum terlihat pada awal mereka memasuki gerbang universitas. Saya pun membandingkan dengan jaman-jaman saat saya mencari universitas atau bahkan mencari SMP tidak banyak terlihat orang tua mendampingi anak-anak mereka. Segalanya mereka urusi sendiri bahkan sampai membayarkan uang pangkal dan uang gedung mereka bawa sendiri untuk diberikan kepada sekolah atau universitas.

Jaman telah berubah

Banyak analisis dan pendapat mengapa sekarang terjadi kedewasaan mental yang semakin lambat. Banyak orang menikah lambat, pun banyak orang yang terlanjur memiliki anak diusia dini tetapi tidak bisa mengasuh anak secara dewasa. Bahkan banyak kita dapati pengasuhan diserahkan kepada eyangnya, kakaek neneknya, atau malah pembantunya.

Faktor keamanan dan keadaan yang tidak kondusif juga memicu perilaku orang tua yang sangat mengkhawatirkan anaknya. Hal ini sanagt wajar karena keselamatan bersama adalah hal utama bagi kita semua. Tetapi ada pendapat yang saya kira benar, dimana dijaman sekarang banayk aktivitas anak-anak kita yang berujung tak lebih bermain-main saja. Aktivitas itu hanya mngejar kesenangan sesaat. Itulah yang membuat kedewasaan mental datang terlambat. Bermain game komputer, playstation, naik motor bareng-bareng, ke mall, ke hiburan malam. Mereka menikmati itu tanpa mau mengambil hikmah pelajaran dari itu semua. Semua dinikmati sebagai hiburan. Alhasil mereka belajar sebagai beban (yang diamanatkan oleh orang tua), mengerjakan tugas sekolah hanya berbekal modem untuk berselancar di google. Dan hasilnya adalah tugas mereka mirip satu sama lain karena sama sama mencopy paste dari wikipedia dan situs-situs yang lain.

Perilaku Yang Mendewasakan

Keteladanan dari orang tua dalam lingkungan keluarga -mungkin- adalah hal terpenting bagi anak-anak kita. Anak kita akan meniru perilaku kita. Perilaku buruk sangat gampang ditiru, perilaku baik butuh waktu lama untuk membudayakan. Diluar sana (lingkungan, televisi, internet) dipampang dengan gamblang teladan-teladan yang tidak baik bagi kita dan generasi sesudah kita.. Sangat sulit bagi kita untuk mengontrolnya; pun sangat sulit bagi kita mendidik anak-anak kita dengan gaya/model orang tua kita mendidik kita karena anak kita hidup dijaman yang sama sekali berbeda denga jaman kita. Yang dapat kita lakukan adalah menanamkan karakter-karakter baik dengan cara-cara yang disepakati dalam keluarga dan tentu saja keteladanan.

Sumber gambar.

Pindah ke Rumah Baru [moving to new home]

July 6, 2011

nu home, nu life, nu hope....

Rumah baru kami sebenarnya sudah selesai pembangunannya hampir satu tahun yang lalu. Tetapi kami masih punya jatah 1 tahun ngontak rumah, akhirnya masa kontrak itu kami manfaatkan saja. Kenapa demikian? karena sekolah anak kami yang pertama lebih dekat dengan kontrakan dari pada jaraknya dari rumah baru (walaupun kalo diitung2 sama2 jauh sih…:-)) Alhasil rumah baru kami yang istimewa itu (:-)) sementara kami jadikan jagoan yang kami elus-elus, kami pel tiap minggu, dan kami jadikan vila tempat berlibur (he he kayak orang kaya ya…).

Bulan ini kontrakan kami habis. Oleh si empunya rumah (yang sangat baik hatinya; makasih Pak Sis) untuk tidak buru-buru pindah, santai sajalah. Memang untuk pindahan kami saat ini (kami sudah 2x ngontrak) kami mendapati pemilik2 yang sangat baik. Pemilik tidak mendesak untuk segera pindah -walaupun kontrak udah habis- tetapi kami harus segera menempati rumah baru kami. Sebuah pilihan yang sangat menyenangkan.

Akhirnya kami memutuskan untuk segera pindah sebelum kontrak habis. Dan ternyata atmosfer udara di rumah kami yang baru sangat nyaman. Dengan ‘halaman’ sawah yang sangat luas, kami memperoleh udara bersih dan sejuk tanpa bersusah payah mencarinya. Kami dapat melihat bintang dihamparan langit tanpa harus keluar rumah. kami dapat merasakan angin berhembus cukup dengan membuka jendela dan pintu lebar-lebar. Dan yang lebih penting rumah kami terasa lebih lega. Semua fasilitas terasa lebih mapan. Kadang kami merasa belum percaya kalo ini bukan rumah kontrakan. Ini rumah kami sendiri. Alhamdulillah….

Have a new baby

July 6, 2011

Aqila

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT atas anugrah terindah yang kami terima: kelahiran anak ke-3 kami. anak kami lahir dengan sehat walafiat tak kurang suatu apapun, tepatnya tanggal 28 maret 2011 ….

Allah adalah Dzat yang maha merencanakan dan maha perhitungan. Sepuluh bulan yang lalu ketika mendapati kenyataan bahwa istri hamil, kami menerima dengan kurang sepenuh hati. ada perasaan belum siap menerima karunia ini. hal ini disebabkan anak kami ke-2 belum tuntas mendapatkan ASI karena baru berusia 1,5 tahun. sebenarnya kami akan merencanakan punya baby lagi kalo segalanya sudah mapan, dan sudah pindah ke rumah baru. Tetapi memang, manusia merencanakan, Allah yang menentukan. Kita tak berdaya dihadapan rencana Allah. Dan rencana Allah pasti lebih baik dari rencana manusia.

Dan benar saja. Kami mendambakan anak laki-laki untuk anak ke-3; Allah memberikan saat ini dan jauh lebih cepat dari yang direncanakan. Dengan segala perjuangan dan kesulitan yang kami hadapi, rejeki karunia Allah ini jauh lebih besar dibanding kesulitan-kesulitan itu. Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan rejeki berlimpah bagi kami dan bagi kita semua. Amien…